Ini Klarifikasi Ketua Panitia Munajat 212 Terkait Dugaan Kekerasan dan Intimidasi Jurnalis

Ini Klarifikasi Ketua Panitia Munajat 212 Terkait Dugaan Kekerasan dan Intimidasi Jurnalis

Ketua Panitia Munajat 212, Habib Idrus al-Habsyi mengklarifikasi terkait dugaan kekerasan dan Intimidasi terhadap jurnalis yang diberitakan oleh beberapa media. Ia mengungkapkan, bahwa selama acara munajat 212, tidak ada dari personil panitia yang melaporkan kepada Ketua Panitia tentang adanya peristiwa tersebut.


“Artinya peristiwa yang digembar gemborkan tersebut bukan peristiwa yang menempati sekuel penting dari keseluruhan rangkaian acara dan bukan bagian dari format atau SOP acara munajat 212,” ungkap Idrus dikutip melalui rilis di FPI-online.com, Sabtu (23/02/2019).

Ia menjelaskan, dalam S.O.P panitia maupun Laskar Pembela Islam yang merupakan tim pengamanan yang ditunjuk oleh panitia, tidak ada perintah atau anjuran untuk bersikap tegas apalagi kasar terhadap rekan jurnalis. Ia mengklaim pihak panitia telah melakukan Investigasi, dan didapatkan bahwa peristiwa tersebut adalah bermula dari adanya seorang pencopet yang mencoba melakukan aksinya terhadap peserta munajat 212.

“Oleh karenanya tim pengamanan yang terdiri dari Laskar Pembela Islam, bertindak untuk mengamankan si pencopet dan si pencopet membuat kegaduhan sebagai pengalih perhatian massa. Sehingga dengan adanya kegaduhan tersebut, sebagian massa akhirnya menjadi beralih fokus terhadap titik peristiwa termasuk rekan jurnalis. Di tengah keramaian massa inilah sebagian jurnalis mungkin saja bersinggungan dengan keributan massa yang hadir di titik terjadinya peristiwa,” jelas Idrus.

Ditengah emosi massa terhadap si pencopet, sambung Idrus, maka tentu saja suasana massa dalam keadaan emosional yang sangat mungkin siapapun akan secara tidak sengaja mengalami benturan dan bentakan dari sebagian massa yang emosi.

Idrus menuding adanya labelling dan framing oleh gerakan anti Islam terhadap kegiatan munajat dan FPI sebagai suatu peristiwa yang negatif. Ia menyebut, labelling dan framing yang dilakukan terhadap kegiatan doa dan munajat merupakan kejahatan terhadap akal sehat dan intelektualisme.

Adapun untuk proses hukum dan pidana, ia berharap agar proses hukum dilakukan secara adil dan tidak digunakan untuk sekedar menggoreng isu.

“Urusan proses hukum pidana yang akan dijadikan pintu masuk menggoreng isu tersebut harus dijalankan sebagai proses hukum yang adil, dan bukan upaya untuk menzhalimi panitia atau personil panitia,” pungkasnya.

Sebelumnya, beredar kabar bahwa sejumlah jurnalis menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan dalam Malam Munajat 212 di Monas, Kamis (21/02/2019). Selain itu, diduga foto dan rekaman video  mereka dihapus secara paksa oleh sejumlah oknum yang diduga panitia.[www.tribunislam.com]

Sumber : kiblat.net

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel