Kesal Gara-gara Pekerjaan, Warga Jemur 10 Tenaga Kerja Asing


Aktivitas pembangunan tambang milik PT Indo Global di Kampung Sindang Lengo RT/04/04, Desa Klapanunggal, Kabupaten Bogor terhenti, sejak Senin (13/8). Itu setelah masyarakat melakukan aksi penolakan kepada pihak perusahaan.


Saat warga mengontrog perusahaan tersebut, ada beberapa TKA asal Tiongkok yang tengah bekerja. Sontak hal itu membuat warga ngamuk dan men-sweeping para TKA tersebut. Terhitung, ada 10 TKA dijemur di bawah terik matahari. Warga kemudian menanyakan paspor, namun tidak ada satupun yang menjawab.

Warga pun menuntut untuk bertemu pemimpin perusahaan itu, namun pihak manajemen tak ada di lokasi. Yang menemui mereka hanya seorang juru masak. “Saya bukan juru bicara hanya tukang masak,” jawab perempuan bernama Yanti (30), dilansir Radar Bogor (Jawa Pos Grup), Selasa (14/8).

Dia lantas berbebicara dengan salah seorang pemimpin TKA mengunakan bahsa mandarin. “Saya bisanya hanya sedikit-sedikit bahasa mereka. Kata dia bukan gini carannya kalau mau cari kerjaan,” ujar Mantan TKW ini.

Namun warga yang mengintrograsi meminta perempuan itu menerjemahkan kembali apa yang disampaikan oleh mereka. “Bilang juga sama dia jangan begini caranya kalau mau datang ke negeri orang,” kata seorang warga sambil merekam percakapan keduanya. “Tapi saya tidak begitu bisa,” jawab perempuan itu.

Warga kembali menanyakan paspor para TKA asal Tiongkok itu, namun Yanti menegaskan bahwa para TKA tersebut memiliki paspor. “Kemarin ada petugas Imigrasi datang ke sini. Paspornya masih diperiksa Imigrasi, enggak ada masalah apa-apa, polres juga sudah ke sini,” jawab perempuan itu.

Sementara Sekdes Klapanunggal, Magriza Jubaedi, yang mendampingi warga mengatakan, ia diminta warga agar menjembatani masalah tersebut dengan pihak perusahaan terkait pekerjaan. Namun, warga malah kesal karena ada TKA Tiongkok yang menjadi buruh kasar di perusahaan tersebut.

“Warga sini juga bisa (jadi buruh kasar). Warga datang ke desa pengen kerja. Mandor di sini malah bilang ngapain warga mau pada kerja. Ngapain dia ngomel ke saya,” kata Magriza.

Sementara itu, Kepala Kanit Reskrim Polsek Klapanunggal Hendi Rohendi, mengatakan, unjuk rasa warga yang berujung pengerebekan TKA ini terjadi karena warga kesal ditolak bekerja oleh perusahaan. “Akhirnya ada reaksi dari warga, dan ternyata banyak TKA di dalam area pembangungan yang bekerja kasar,” terangnya.

Lanjut Hendi, pihdak desa telah melaporkan hal tersebut ke polsek dan koramil. Warga menemukan TKA pekerja kasar dan belum melaporkan kedatangan mereka di wilayah Klapanunggal. “TKA juga tidak melaporkan ke desa, kepolsek juga tidak, ” pungkasnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : jawapos.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel