Kapitra Tantang Mahfud MD Buka SMS soal Ma'ruf Amin

Kapitra Tantang Mahfud MD Buka SMS soal Ma'ruf Amin

Bakal calon anggota legislatif (caleg) PDIP Kapitra Ampera mengklaim menjadi saksi jika Ketua Majelis Ulama (MUI) Ma'ruf Amin merekomendasikan nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menjadi calon wakil presiden Joko Widodo di pilpres 2019.


Pernyataan itu, kata Kapitra, disampaikan langsung Ma'ruf sehari sebelum Jokowi mengumumkan cawapres di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8) lalu.

"Waktu itu saya tanya Kiai Ma'ruf mau jadi cawapres tidak? Dia bilang dia sudah merekomendasikan Mahfud MD sebagai cawapres. Demi Allah saya tidak bohong soal ini," kata Kapitra kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).

Ia juga mengklaim bahwa tidak ada ekspresi kecewa di wajah Ma'ruf saat menyampaikan Mahfud MD yang ia perjuangkan menjadi cawapres Jokowi di pilpres tahun depan.

Mendengar jawaban itu, Kapitra pun langsung mengirim pesan teks atau SMS kepada Mahfud untuk menyampaikan selamat. Kapitra mengklaim mengirim pesan ke Mahfud pada pukul 11.00 WIB siang.

"Saya tantang pak Mahfud tunjukin HP-nya, ada SMS dari saya, Rabu 8 Agustus, siang," kata Kapitra.

Untuk itu Kapitra menganggap Mahfud MD sudah khilaf karena mengira Ma'ruf Amin yang mencoba menjegalnya sebagai cawapres Jokowi. Kapitra pun mengecam langkah Mahfud yang menuding Ma'ruf menekan Jokowi lewat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

"Mahfud khilaf kalau anggap Kiai Ma'ruf mau menjegalnya jadi cawapres," tutur Kapitra.

Kapitra menambahkan perbincangannya dengan Ma'ruf soal cawapres Jokowi itu terjadi saat keduanya menghadiri pengukuhan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi Budi Gunawan sebagai Guru Besar Intelijen di Sekolah Tinggi Inteliljen Negara (STIN), Bogor, Rabu (8/8). Ia mengatakan yang menjadi saksi dalam pertemuan itu adalah Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Zaitun Rasmin, mantan Wakasad Letjen Muhammad Munir, Slamet Maarif, dan Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo.

Sebelumnya, Mahfud mengaku pada detik-detik terakhir pengumuman cawapres, sempat diwarnai 'ancaman' dari PBNU kepada Jokowi agar memilih cawapres dari NU. Mahfud mengatakan bahwa Ma'ruf Amin adalah orang yang menyuruh PBNU mengeluarkan ancaman tersebut.

"Robikin yang menyatakan [ancaman] dan yang menyuruh itu kiai Ma'ruf Amin. Bagaimana saya tahu kiai Ma'ruf Amin? Muhaimin yang bilang ke saya," ungkap Mahfud saat berbicara di acara Indonesian Lawyer Club yang disiarkan TV One, Selasa (14/8).

Pemilihan cawapres Jokowi memang sempat menuai kontroversi. Pasalnya, nama Mahfud yang pada detik terakhir pengumuman paling santer akan dipilih Jokowi, tiba-tiba tersingkir. Jokowi akhirnya memilih Ma'ruf sebagai cawapresnya.

Mahfud menceritakan kronologi di balik tersingkirnya dia pada detik terakhir jelang pengumuman nama cawapres. Menurut Mahfud, berdasarkan cerita dari Muhaimin, pada Rabu (8/8) atau satu hari sebelum pengumuman cawapres Jokowi, ada pertemuan di Kantor PBNU antara Kiai Ma'ruf Amin, Ketua PBNU Said Aqil Siroj, dan Ketua PKB Muhaimin Iskandar.

"Terus saya tanya gimana tuh main ancam-ancam? Itu yang nyuruh kiai Ma'ruf," kata Mahfud menirukan pengakuan Muhaimin kepada dirinya.

Di satu sisi, sebelum deklarasi capres-cawapres, baik Jokowi maupun dari tim koalisi partai tak menyebutkan lugas siapa yang bakal mendampingin Jokowi. Hanya saja dari bursa 10 nama, yang terkuat adalah sosok berinisial M. [www.tribunislam.com]

Sumber : cnnindonesia.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel